Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Toleransi dalam berperan, tempatnya dimana?

 

tentang toleransi

 

 

Toleransi sempat menjadi bahasan saya beberapa waktu lalu juga.

http://radityo.id/toleransi-sudah-bosan/

Tulisan saya di tahun 2017 ketika melihat bagaimana proses Pilkada di Jakarta. Saya tidak mengatakan proses yang mereka lakukan benar atau salah, tapi yang saya tahu proses yang dijalankan itu menebar ketakutan ke beberapa pihak. Istilah persekusi ramai dibicarakan di televisi dan radio. Bukti nyata munculnya intoleransi adalah kejadian dimana ada masjid-masjid yang tidak mau memandikan jenazah dari keluarga yang mendukung pasangan calon tertentu.

Kali ini, saya juga ingin menulis lagi tentang toleransi. Terutama kaitannya dengan profesi pekerjaan sosial. Latar belakang pendidikan yang sudah saya tempuh selama empat tahun.

Pekerja sosial dilihat dari tujuan adanya profesi ini, sering dikaitkan dengan pengembalian atau perbaikan keberfungsian sosial atau social functioning dari individu, keluarga, kelompok ataupun masyarakat. Keberfungsian sosial erat kaitannya dengan peran dan nilai-nilai yang ada di masyarakat.

Kementerian Sosial sendiri menyebutkan bahwa yang disebut keberfungsian sosial adalah

Kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, memenuhi kebutuhan, dan mengatasi masalah

Jadi bisa dipahami Bersama juga untuk memenuhi tugas-tugas kehidupan, memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah kita menggunakan peran-peran dengan segala macam indicator peran yang baik disematkan kepada kita.

Suka tidak suka.

Seorang Ayah/Ibu/Anak bahkan pekerja sosial dalam menjalankan perannya, baik buruknya akan dinilai secara tidak langsung oleh masyarakat. Ayah yang baik itu harus lantang, harus begini harus begitu.

Masyarakat yang menciptakan nilai-nilai, masyarakat pula yang menyepakati nilai-nilai tersebut, dan kita sebagai bagian dari masyarakat berarti juga terlibat dalam pembentukan ini.

yang ingin saya gambarkan diatas adalah bagaimana nilai-nilai yang ada di masyarakat sangat mempengaruhi peran-peran individu di dalam lingkungannya.

Toleransi dalam Profesi Pekerjaan Sosial

Kembali ke Toleransi terutama kaitannya dengan profesi pekerjaan sosial.

Kalau kita bicara mengenai pekerja sosial sebagai sebuah profesi, maka kita bicara pekerja sosial sebagai profesi professional yang terikat oleh body of knowledge, body of value dan body of skill.

Body of value ini yang didalamnya ada pertemuan antara kode etik pekerja sosial dan juga nilai norma yang ada di masyarakat.

Pertemuan ini juga yang menjadi pertanyaan saya? sejauh mana perbandingan kode etik dan nilai norma ini mempengaruhi seorang pekerja sosial dalam memberikan pelayanannya.

Coba kita ambil salah satu contoh kasus.

Kasus LGBT, dimana mayoritas penduduk Indonesia setuju bahwa rekan-rekan dari komunitas LGBT tidak melakukan hal yang benar sesuai dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat, dianggap tabu atau tidak sesuai dengan kodrat yang diberikan Sang Pencipta.

Nilai-nilai yang ada di masyarakat menyepakati bahwa rekan-rekan dari komunitas LGBT itu menyalahi kesepakatan bersama.

Nah, sekarang coba saya kutip dari pembukaan Kode Etik Profesi Pekerjaan Sosial dari website IPSPI

“Profesi pekerjaan sosial menempatkan kaidah-kaidah hak asasi manusia, demokrasi, dan keadilan sosial sebagai landasan dan motivasi bagi tiap-tiap pekerja sosial untuk mengakui keunikan dan kesetaraan setiap orang dan oleh karenanya menghargai harkat dan martabat serta tanggung jawab sosial.”

Pekerja sosial menempatkan kaidah hak-hak asasi manusia dan mengakui keunikan dan kesetaraan setiap orang. Itu amanat yang ada di salah satu paragraf pembukaan kode etik. Hemat saya, berarti pekerja sosial harus menghargai keunikan orang lain dan menjunjung tinggi kesetaraan dari setiap orang. Terlepas dari agama, ras, jenis kelamin, gender dan orientasi seksual.

Meskipun sebenarnya kode etik profesi tidak bisa hanya disimpulkan dari satu paragfraf saja, yang saya angkat adalah bagaimana kesetaraan tiap orang dan keunikan-keunikannya dijunjung tinggi oleh profesi pekerja sosial.

Dilema

Dilema yang bisa muncul adalah bagaimana seorang pekerjaan sosial sebagai sebuah profesi menyeimbangkan nilai-nilai ini, dan bagaimana outputnya nanti terhadap proses pelayanan yang diberikan?

Tentu saja nilai-nilai pribadi dari individu seorang pekerja sosial juga akan mempenagruhi, tapi coba kita taruh individu pekerja sosial ini adalah orang yang populis. Mengikuti apa yang orang banyak katakan dan lakukan, meskipun belum tentu benar.

Apa si pekerja sosial ini salah bila tidak mau melayani teman-teman dari komunitas LGBT?

Atau justru sebaliknya, pekerja sosial tadi bisa dibilang menyalahi kode etik pekerja sosial?

Jadi sampai sejauh mana toleransi ini ditempatkan dalam profesi pekerja sosial?

Atau sejauh mana nilai-nilai di masyarakat ini mempengaruhi peran sebagai pekerja sosial dalam diri seorang individu?

Seandainya ada solusi, apa yang harus dilakukan seorang pekerja sosial untuk menyeimbangkan pemenuhan perannya tanpa menciderai salah satu nilai yang mengikatnya?

Saya belum tahu jawabannya, seandainya ada jawabannya pun masih berupa pikiran-pikiran bebas yang belum bertemu garis merahnya. Jadi yuk diskusi.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *