Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Tahu diawal

Tulisan ini berkiblat kepada salah satu tulisan teman saya. Nirmalajati. Si empunya bisa ditengok di blognya disini.

Sebenarnya sudah lama ingin mengajak teman-teman dari background pekerja sosial untuk lebih sering menulis. Dimanapun. Media apapun. Selama bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Saya ikut senang dapat membacanya.

Kebetulan beliau pernah memiliki pengalaman sebagai pekerja sosial medis di setting kesehatan mental di salah satu rumah sakit jiwa di Kabupaten Bandung. Jadi saya meminta beliau menulis mengenai pengalamannya dan juga pengetahuannya tentang kesehatan mental. Dan jadilah tulisan berikut ini. Kenali Diri, Deteksi Dini.

Perubahan paradigma terjadi. Tidak terkhusus mengenai disabilitas mental secara khusus. Tapi keseluruhan penyandang disabilitas di Indonesia. Sebelumnya berbasis charity oriented. Sekarang merintis berbasis empowernment oriented.

Tahun-tahun ke belakang. Awareness tentang kesehatan mental sedang digalak-galakan. Pemerintah. Swasta. Masyarakat. Semuanya bekerja sama baik secara sadar dan tidak sadar. Menyebarkan tentang pentingnya kesehatan mental.

Kesehatan sendiri juga sebenarnya memiliki aspek yang harus paripurna semuanya. Aspek kesehatan sendiri seperti kata Jati. Tidak hanya sehat fisik. Undang-Undang 35 Tahun 2009 mempertegas ini.

Mental.
Spiritual.
Sosial.

Menjadi aspek untuk melihat mengenai kesehatan. Harus paripurna. Saya bisa sehat fisik. Tapi apa saya juga sehat mental, sehat spiritual dan sehat secara sosial juga? belum tentu. Maka dari itu kampanye akan kesehatan yang paripurna sangat diperlukan.

Saya juga belajar banyak dari tulisan beliau. Saya buat outlinenya.

Hal yang bisa kita rasakan sendiri dan bisa kita cek sendiri. Dalam rangka menjaga kesehatan mental kita.

  • Mulai hidup dalam dunia sendiri
  • Ketika pikiran mulai terganggu
  • Panca indra mulai terganggu
  • Perasaan mulai terganggu
  • Merasa cemas

Dan dihimau untuk segera menghubungi profesional terdekat. Beberapa puskesmas sekarang sudah juga memiliki poli jiwanya masing-masing. Sebagai langkah awal.

Saya juga baru tahu bahwa ternyata Kementerian Kesehatan memiliki aplikasinya sendiri yaitu aplikasi sehat jiwa.

atau untuk versi webnya dapat diakses dibawah ini.

http://sehat-jiwa.kemkes.go.id/

Sayangnya. User Interfacenya masih jauh dari baik. Kontennya sebenarnya sedikit banyak membantu. Tetapi aksesibilitas terhadap aplikasinya masih sering panas dingin. Dicoba saja akses melalui websitenya. Lalu dapat juga download aplikasinya. Dapat dinilai sendiri.

Yang sangat disayangkan. Hal ini menggunakan anggaran negara. Dan bila berfungsi secara maksimal. Harusnya dapat membantu hajat hidup orang banyak. Semoga ini tidak menjadi gambaran bahwa kesehatan mental masih belum terlalu diperhatikan ya. Bahkan oleh Kementerian Kesehatan itu sendiri.

Semoga saya salah.

Tapi semoga saja dapat menjadi awal ke arah yang lebih baik.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *