Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Sosial Media Penahan Diri

tulisan didedikasikan untuk mas @nukman. Semoga beliau diberikan tempat terbaik di sisiNya.

Sosial media. Selalu menjadi bahasan yang menarik. Mampu mengeluarkan hal terburuk dari seseorang yang baik. Atau mengeluarkan hal terbaik dari seseorang yang buruk. Nothing in between. Karena tidak ada orang yang abu-abu. Pasti condong ke salah satu pihak. Atau ke beberapa pihak sekalipun.

Sosial media banyak manfaatnya sekarang. Jauh lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya. Tentunya harus diliat perindividu ya. Penyebar hoax contohnya. Mereka bisa mendapat penghasilan dari menyebarkan hoax-hoax. Melalui apa? Sosial media. manfaat untuk mereka.

Selebgram mendapatkan penghasilan dari endorse produk tertentu. Target pasarnya pun lebih terarah dibanding TV. Kita sudah tahu yang mengikuti sosial media Awkarin. Anak-anak remaja. Pengiklan mendapatkan keuntungan target pasar yang jelas. Awkarin mendapatkan penghasilan yang perbulannya mungkin lebih besar dari gaji 10 orang diakumulasikan. Manfaat untuk beliau.

Manfaatnya kenapa harus dilihat dari individu? kan ada juga yang memberi dampak ke masyarakat?

Nah itu beda lagi. Saya pikir manfaat yang pasti harus dirasakan diri sendiri dulu. Kalau diri sendiri tidak merasakan manfaat. Kenapa harus mengurus ke orang lain? sama konsepnya dengan Pahala dan Dosa. Setiap orang bertanggungjawab terhadap pahala dan dosanya masing-masing. Tidak ada ceritanya tiba-tiba dosa saya hilang. Saya transfer ke orang A karena saya tidak suka dirinya. Ya kan tidak begitu.

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Setiap orang juga bertanggung jawab atas apa yang dia putuskan tidak dilakukan. Itulah sosial media untuk saya. Sebuah media untuk melatih menahan diri.

Sama seperti naik sepeda.

Orang-orang tidak akan mau tahu berapa kali kamu jatuh naik sepeda. Dan tidak penting juga untuk diberi tahu ke orang-orang. Yang penting bahwa kamu bisa bersepeda.

Orang-orang tidak akan mau tahu latar belakang kamu melakukan sesuatu di media sosial. Yang dilihat adalah yang kamu tampakkan.

maka dari itu.

yang penting kamu bisa naik sepeda dengan baik.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *