Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Serba Lima Ribu Dewasa Awal dan Cara Membelinya

Serba lima ribu. Salah satu model toko di Bondowoso yang marak di waktu saya SMP. Mayoritas barangnya ya memang sekitaran lima ribu. Paling mahal pun jarang mencapai seratus ribu. Benar-benar murah dan diobral. Waktu itu laku. Meskipun kita tahu kalau kualitasnya tidak terlalu bagus. Rata-rata barang sisa dari tiongkok. Plastik-plastik yang belum tentu aman juga digunakan.

Masa dewasa awal juga seperti serba lima ribu. Banyak sekali masalah-masalah yang dirasakan. Meskipun sebenarnya masalahnya hanya senilai lima ribu. Tapi namanya juga dewasa awal. Masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Kemana masa remaja?

Saya sendiri lebih suka tidak memasukan masa remaja ke dalam garis panjang perkembangan manusia ini. Masa remaja itu unik. Dan menurut saya sendiri masa remaja itu tidak mengikuti alur masa perkembangan manusia. Jadi diluar alur tersebut. Tapi saya sedang tidak ingin menulis tentang masa remaja. Mau menulis serba lima ribu di masa dewasa awal dengan segala masalahnya. Dari kisah nyata tentunya.

Kacamata masa kecil.

Teman-teman saya beberapa waktu kemarin banyak yang curhat. Curhat tentang masalah setelah mereka lulus kuliah. Dicantumkan pun Quarter Life Crisis sebagai label ke diri mereka sendiri. Kalau saya lebih suka penyebutan lain.

Serba lima ribu dewasa awal. Dengan masalah. Masalahnya pun sebenarnya bisa dikategorikan ke beberapa label yang lebih besar. Utamanya adalah Tekanan. Tertekan. Ditekan.

Tekanannya pun bisa bermacam-macam.

  • Masa jobless setelah wisuda.
  • Merasa harus menanggung keluarga secepat mungkin.
  • Dibanding-bandingkan dengan orang lain oleh orangtua.
  • Membanding-bandingkan diri dengan orang lain.
  • Merasa sudah berusaha maksimal, tapi belum berhasil.

Tekanan. List diatas semuanya bisa diberi label besar yaitu tekanan. Tentunya tekanan ini tidak selamanya buruk. Malah tekanan dan stres yang dirasakan merupakan cara seseorang untuk mengupgrade coping strateginya. Dan tidak semuanya berhasil memang. Dan tidak semuanya gagal juga.

Mereka yang sudah ada pijakan. Mungkin akan melaluinya dengan sedikit lebih santai. Daripada mereka yang belum ada pijakan. Dan mereka yang belum ada pijakan sering menganggap mereka yang sudah ada pijakan tidak mengerti apa yang mereka rasakan.

Dan ini yang mengkatalis tekanan-tekanan tadi. Berpikir berlebihan. Yang menjadi pemberat diri sendiri. Ada masanya saya mute insta stories teman-teman yang update tentang pekerjaannya. Bukan karena iri. Ingin menjaga diri sendiri saja.

Orang lain mungkin punya coping yang berbeda. Dan pasti berbeda. Wongan latar belakang orang-orang juga pasti berbeda. Coping ini saya ibaratkan cara membeli masalah yang serba lima ribu tadi.

Saya sebenarnya tidak punya pasti cari membelinya. Tapi saya punya cara yang saya pakai sendiri untuk membantu agar kita punya keinginan untuk membeli. Menumbuhkan motif.

Menulis.
Iya menulis aja.
Tidak dengan yang lain untuk saya.

Menulisnya sebenarnya terserah topiknya apapun. Saya punya buku jurnal pribadi. Setiap pikiran saya kusut atau sedang diserbu masalah lima ribu. Saya tulis disana.

Kalau saya menggunakan kerangka yang saya pakai sendiri.

  • Deskripsikan masalah.
  • Faktor yang membuat saya menganggap itu menjadi masalah.
  • Faktor yang membuat saya belum mampu menyelesaikan masalah itu.
  • Bila saya mau menyelesaikan masalah, jangka pendek dan jangka panjang perencanaan.
  • Kalimat komitmen kepada diri sendiri. Dimaterai.

Sedikit banyak. Dengan menulis menggunakan rumus diatas. Serba lima ribu di pikiran saya dapat diurai. Pelan-pelan jadi muncul keinginan saya untuk membeli serba lima ribu dengan masalah-masalahnya. Dan karena saya sudah komitmen di materai, saya harus kerjakan. Nanti dituntut kalau lalai.

Dituntut siapa?

Diri saya di masa depan. Yang kecewa melihat saya di masa sekarang.

Karena kalau memang punya ambisi tinggi. Setidaknya harus diimbangi dengan kerja keras yang sesuai. Seandainya belum berhasil?

berarti saya belum berusaha sekeras diri saya di masa depan mengharapkan saya.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *