Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Schizoprenia – Sudut Pandang Keluarga

Lanjutan dari http://radityo.id/schizophrenia-sudut-pandang-penderita/
karena seperti yang sudah sering saya tulis di blog ini. Kalau masalah kesehatan mental sebenarnya tidak hanya menjadi masalah untuk si penderita. Saya sebenarnya sangat enggan menggunakan kata penderita. Karena terkesan kurang enak di dengar. Tapi sekarang saya pakai karena kondisi tersebut harus di embrace. Karena benar-benar ada dan benar-benar terjadi. Bahwa teman-teman yang mengalami masalah kesehatan mental, itu menderita.

Kembali lagi ke awal. Masalah kesehatan mental seperti schizoprenia ini dampaknya luas. Tidak hanya kepada diri sendiri. Tapi kepada significant others juga. Kalau disebut dari sudut pandang pekerja sosial. Atau bisa juga disebut kepada keluarga terdekat. Kerabat terdekat. Atau yang memberikan perawatan. Saya pernah tulis ini juga di blog ini. http://radityo.id/beban-kesehatan-mental/. Dan dari pengalaman saya dari para keluarga klien. Saya coba menggambarkan bagaimana yang sebenarnya mereka rasakan saat menjadi malaikat pelindung dari teman-teman kita yang schizoprenia.

Tidak Cukup Peduli

Itu turunan mu?, bicara sendiri kepada hantu.
Ajaran sesat kaum mu, ditambah dosa masa lalu.
Kamu itu jalang, tak layak hidup bersamaku.
Mati kamu di rumput ilalang, bersama beban hidupmu.

Iya aku memang jalang, tapi bukan jadi urusanmu.
Surga tak tertutup untukku, dan neraka juga tidak menolakku.
Dia turunanku, meski berbeda kami masih punya yang dituju.
Untuk bertahan hidup di udara sucimu, bukan yang dimau.

Baguslah, kamu sadar.
Anakku kusuruh menjauhi mu tanpa gentar.
Tak perlu kompromi, takut tertular.
Karena aku tahu, aku pasti benar.

Tidak apa, aku juga tak mengaku benar.
Aku tak peduli, saat dia di sekolah.
Cerita dibully, aku anggap itu Siti Jenar.
Sampai akhirnya, his mind will never be normal.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *