Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Persona

Lama tak menyapa manusia-manusia yang tiba-tiba mampir di blog saya. Beberapa tugas-tugas kuliah saya telah selesai dan itu tandanya saya bisa mulai aktif menulis kembali melalui blog ini.

Yuk bicara tentang PERSONA. Sebenarnya persona itu apa sih? kita lihat terjemahan bebasnya berikut.

Persona setiap orang tentu berbeda-beda. “wajah” atau “topeng” yang ditunjukan dari seorang individu kepada individu lainnya mungkin tidak akan sama. Tergantung situasi, kondisi dan yang paling penting adalah tujuan yang ingin dicapai dari penunjukan persona tersebu, ada sebuah Proverb yang saya cukup sering saya lihat di Internet. Bunyinya seperti berikut:

“The Japanese say you have three faces. The first face, you show to the world. The second face, you show to your close friends, and your family. The third face, you never show anyone. It is the truest reflection of who you are.”

“Orang Jepang bilang bahwa kamu memiliki tiga wajah. Wajah pertama kamu tunjukkan kepada dunia. Wajah kedua kamu tunjukkan kepada teman dekatmu dan keluargamu. Wajah ketiga tidak pernah kamu tunjukkan kepada siapapun. Wajah terakhir ini yang menjadi refleksi terjujur dari dirimu.”

Saya pribadi sedikit mengiyakan apa yang ditulis diatas.

Wajah Pertama (Paling sering ditunjukkan sehari-hari)

Wajah pertama kita tunjukan kepada dunia. Ini wajah yang setiap hari kita tampilkan saat ada di masyarakat atau wajah yang kita tunjukkan di media sosial kita dengan tujuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Persona yang ditampilkan meskipun terkadang berbeda sesuai kondisi, tapi menurut saya pribadi pasti akan memiliki pola.

Jadi, apa sebenarnya wajah pertama ini? Menurut saya wajah pertama ini adalah norma-norma sosial yang ada di masyarakat. Perilaku-perilaku yang diterima oleh masyarakat dan peraturan-peraturan yang mengikat seseorang. Seseorang akan berusaha untuk mengikuti nilai-nilai ini dalam kondisinya yang mengikat dan disaat yang sama mungkin akan kesal karena dirinya mengikuti nilai ini.

Contohnya, Kita dalam suatu kepanitiaan atau organisasi mungkin saja akan menunjukkan dedikasi yang tinggi, datang tepat waktu, menghormati atasan tetapi pada saat yang bersama sering “ngata-ngatain” rekan-rekan kita atau sering curhat sebenarnya kita malas untuk berada di dalam kepanitiaan atau organisasi tersebut.

Meskipun tidak bisa digeneralisasi, tujuan kita yang menjadi faktor penyebab kita menunjukan persona apa pada siapa disaat bagaimana. Pasti ada saja orang yang meski memiliki amanah di suatu organisasi atau kepanitiaan tetapi tidak menunjukan perilaku yang diharapkan oleh nilai-nilai dalam organisasi atau kepanitiaan tersebut. Datang telat, Tidak mengerjakan tugasnya, Sulit dihubungi. Semuanya tergantung tujuan. Bila dirinya tidak menemukan tujuannya atau tidak ada yang dihasilkan dari tujuan-tujuannya, bukan tidak mungkin seseorang itu akan menunjukan persona yang berbeda dengan yang diharapkan oleh nilai-nilai yang ada.

Wajah Kedua (sering ditunjukkan ke keluarga atau orang terdekat)

Wajah kedua kita tunjukkan kepada keluarga atau orang-orang terdekat yang kita sayangi dan kita perhatikan. Bisa saja melambangkan rasa hormat, rasa cinta, sayang, perhatian dan lain sebagainya. Wajah kedua menurut saya lebih sering kita tunjukkan secara tidak sadar. Kenapa wajah atau persona? karena terkadang kita menunjukkan hal ini bahkan lebih dari kemampuan diri kita sendiri atau lebih dari yang dibutuhkan oleh yang menerimanya. Hal ini kita lakukan agar keluarga atau orang yang kita sayang bahagia, agar mereka tidak khawatir. Tentu saja hal ini pun dapat berlaku sebaliknya.

Bisa saja seseorang dibilang “brengsek” di depan umum berdasarkan wajah pertamanya, tetapi dengan keluarga dan orang-orang yang disayang sikapnya 180%.

atau sebaliknya

bisa saja seseorang ramah atau karismatik di depan umum berdasarkan wajah pertamanya, tetapi sikapnya kepada keluarganya buruk.

Maka dari itu wajah pertama dan wajah kedua mungkin saja tidak sejalan. Meskipun tidak sejalan, mau tidak mau; suka tidak suka. Itulah persona yang kita munculkan.

Wajah Ketiga

Wajah ketiga adalah gambaran diri kita sebenarnya. Sikap dan Perilaku yang asli. Cara berpikir kita, sesuatu yang ingin kita lakukan dan cara kita melakukan sesuatu tersebut tanpa memperdulikan nilai-nilai yang ada atau pandangan orang terhadap cara kita. Semuanya hanya diketahui oleh wajah ketiga kita ini dan tidak akan ada orang lain yang mengetahuinya, sekuat apapun kita ingin orang lain mengetahuinya. Karena ini adalah diri kita sebenarnya dan hanya kita yang mampu memahaminya. Wajah ini yang “mengata-ngatain” orang saat wajah pertama kita tunjukkan, wajah ini juga yang berusaha selalu tersenyum kepada orang tua atau orang yang kita sayang meskipun sebenarnya kita terluka untuk kebahagiaan mereka.

Wajah-Wajah diatas semuanya pasti kita miliki, tapi memang tergantung dari kemampuan setiap orang untuk membagi-bagi wajah yang akan mereka tunjukkan; terutama wajah pertama mereka. Hal yang perlu digarisbawahi adalah agar jangan sampai terjebak dengan wajah pertama.

Jangan Terjebak Persona

Iya mungkin nyaman menjadi populer, menjadi idola, dihormati semua orang karena persona kita yang sebisa mungkin agar sesuai dengan nilai-nilai yang ada. Hal yang sangat baik bila kita dapat melakukannya, tetapi jangan lupa akan wajah ketiga kita. Gambaran diri kita sebenarnya juga perlu diperhatikan. Do something that makes you happy.

Baik untuk membuat orang lain senang, tetapi akan jauh lebih baik kalau diri kita sendiri juga senang melakukannya; untuk jiwa yang sehat dan diri yang lebih baik. Kesehatan mental kita juga perlu diperhatikan. Jangan sampai untuk memenuhi tuntutan orang lain, kita sendiri jadi lupa untuk dapat bahagia.

Karena percayalah, saat kita jatuh, akan sangat memungkinkan tidak akan ada orang yang peduli, karena semua orang mempunyai masalah-masalahnya masing-masing yang juga perlu mereka hadapi.

Jadi, punya berapa wajah kamu hari ini? dan persona apa yang kamu sering tunjukkan?

Kalau saya punya tiga wajah, dan persona yang paling sering saya tunjukkan adalah seseorang yang menyebalkan kepada teman dekat, cenderung acuh terhadap orang yang belum dikenal, ramah bila sudah kenal.

Tapi, apa itu diri saya sebenarnya?

yang bisa saya jawab adalah, hal tersebut merupakan persona saya untuk anda.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *