Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Pekerja Sosial (Bukan Profesi Biasa)

Pekerja sosial bukan profesi yang populer. Indikasinya apa? Mudah jawab saya. Salah satu perguruan tinggi yang menghasilkan pekerja sosial profesionala adalah STKS Bandung? Pernah dengar? kalau tidak pernah juga saya tak mempermasalahkan. Biasanya dari semua teman yang saya tanyai, ada dua kemungkinan kenapa masuk ke STKS Bandung dan mau menjadi pekerja sosial profesional. Pertama, karena memang mau masuk ke STKS dan Kedua, karena nyasar kesini.

Jadi ingat Bondowoso, Kabupaten saya dilahirkan dan besar. Tidak dilewati jalur negara, sehingga orang-orang yang ke Bondowoso juga sama karena dua kemungkinan. Pertama, karena ingin benar-benar ke Bondowoso dan Kedua, karena nyasar ke Bondowoso.

Pekerja sosial memang merupakan profesi yang baru hadir di Indonesia, tidak seperti dokter atau pengacara yang sudah ada sejak lama. Pekerja sosial sendiri sering disamakan dengan kegiatan kerelawanan, sampai muncul anggapan “saya membantu lingkungan sosial saya, maka saya adalah pekerja sosial”. Hal ini tentunya salah kaprah dan mungkin menjadi salah satu penyebab juga kenapa pekerja sosial kurang dikenal di masyarakat Indonesia. Hal yang membedakan pekerja sosial dengan relawan sosial adalah adanya kerangka referensi.

Kerangkan Referensi

Pekerja sosial sebagai sebuah profesi memiliki tiga dasar kerangka referensi yang juga menandakan bahwa profesi pekerja sosial adalah profesi yang profesional. Kami punya Body of KnowledgeBody of Valuedan Body of Skill

Body of knowledge: sederhananya menggambarkan bahwa profesi pekerja sosial dalam melaksanakan praktiknya berlandaskan pada pengetahuan-pengetahuan yang telah teruji baik dari penelian-penelitian pekerja sosial maupun ilmu-ilmu lainnya yang sudah ada. STKS sendiri memberikan gelar sarjana terapan bagi alumninya, karena memang menurut saya pribadi banyak ilmu-ilmu dari pekerja sosial yang diambil dan diterapkan dari ilmu lainnya seperti Psikologi, Sosiologi, Ekonomi dan sebagainya; maka dari itu profesi pekerja sosial bukan merupakan profesi sehari jadi dengan jargon “saya membantu lingkungan sosial, maka saya pekerja sosial.” Banyak ilmu yang harus dipelajari.

Body of value: sederhananya dalam memberikan tahap pertolongan, seorang pekerja sosial selalu terikat dengan nilai-nilai. Nilai ini dapat berasal dari diri profesi pekerja sosial itu sendiri seperti prinsip, dari organisasi profesi yang berbentuk kode etik dan dapat juga berasal dari masyarakat berbentuk norma-norma sosial. Pekerja sosial yang profesional wajib memiliki dan mematuhi nilai-nilai yang ada.

Body of skill: pagi sorenya (karena sederhananya restoran padang juga) dalam berpraktik pekerja sosial dibekali dengan keterampilan-keterampilan demi melancarkan proses pertolingan kepada klien. Keterampilan ini seperti keterampilan membangun relasi, keterampilan komunikasi, keterampilan asesmen, keterampilan terapi, keterampilan mengorganisasi masyarakat dan masih sangat banyak keterampilan-keterampilan lainnya.

Saya sering berkelakar ke teman saya bahwa pekerja sosial genaralis ini dapat disebut “jack of all trades but master of none”. Pekerja sosial seperti dapat mengerjakan semuanya, meskipun dari semua yang dikerjakan belum tentu ada yang dikuasai betul-betul. Kita bisa terapi, tapi tidak mahir. Kita bisa perubahan perilaku, tapi tidak mahir. Kata kuncinya ada di “bisa”, kurikulum yang saya rasakan sepertinya membentuk mahasiswa yang serba bisa, bukan mahasiswa yang mahir. Apa ini salah? bisa jadi tapi belum tentu juga, karena ini opini saya, bila anda tidak setuju juga tidak masalah. Yuk diskusi.

Pekerja sosial sebagai sebuah profesi tentunya juga memiliki tujuan pelayanannya, yang paling saya ingat dan pasti membekas adalah pengembalian keberfungsian sosial dari individu, keluarga, kelompok atau masyarakat. Keberfungsian sosial? naon eta teh?

Keberfungsian Sosial sendiri dapat digambarkan sebagai kemampuan individu, keluarga, kelompok atau masyarakat untuk dapat memenuhi peran dan tugas-tugasnya di dalam masyarakat. Peran-peran ini seperti ayah yang menjadi seorang ayah, dalam artian melaksanakan pencarian nafkah, membimbing anak-anaknya dan peran juga tugas lainnya yang ada di dalam hidup seorang ayah.

Jadi saya harap tergambar perbedaan antara pekerja sosial dan relawan sosial. Pekerja sosial dapat menjadi relawan sosial, tetapi relawan sosial belum tentu dapat menjadi pekerja sosial.

Jadi sebenarnya saya tulis artikel ini karena kekecewaan saya akan pengumuman CPNS 2018. Kenapa? karena pekerja sosial utamanya yang lulusan STKS Bandung dengan gelar S. Tr. Sos tidak tertulis di kualifikasi pendidikan pekerja sosial di banyak instansi dan Pemda. Untungnya Kementrian Sosial benar menulisnya, terima kasih Bapak dan Ibu di Kementrian Sosial.

bahkan ada yang kualifikasi pendidikannya akuntansi

Sayangnya di banyak Pemda dan instansi lainnya, kualifikasi pendidikan D4 Pekerja Sosial tidak tertulis. Hal ini membuat banyak teman termasuk saya yang kemudian takut untuk mendaftar, karena tidak mau gagal di kesempatan pertama yaitu seleksi administrasi.

Kalau sudah begini tentunya sebagai seorang netizen yang aktif pertama kali yang harus dicari adalah kambing hitam, siapa nih yang sampai bikin begini. Tetapi setelah dipikir-pikir lagi yang membuat seperti ini adalah bisa jadi saya sendiri. Karena apa? karena tidak menyuarakan profesi pekerja sosial; sehingga banyak daerah yang masih belum tau tentang ada tidaknya profesi ini. Tapi memang pekerjaan tidak hanya di sektor pemerintah ada juga di sektor swasta, tapi kesempatannya juga tidak terlalu besar. Karena apa? karena tidak dikenalnya profesi ini.

Jadi?

Kedepannya mau bagaimana? Bukan waktunya untuk mencari kambing hitam. Kita punya masalah, kita perbaiki masalah kita. Kita kembalikan keberfungsian sosial profesi ini. Saya sendiri menulis tulisan ini dikhususkan untuk diri saya sendiri dan juga pekerja sosial lainnya yang ada di laur sana. Yuk sama-sama kita suarakan profesi kita. Boleh lewat berbagai medium, yang terpenting adalah menyampaikan pesan bahwa profesi kita ada dan orang-orang lain bisa tahu dan bisa merasakan dampaknya.

“oh ini toh pekerja sosial, berguna ya banyak manfaatnya.” Menjadi salah satu yang ingin saya dengar dari masyarakat.

Profesi kita memang belum lama lahir, tetapi jangan sampai karena terjebak kata-kata belum lama; kinerja kita untuk memajukan profesi ini berkurang. Pembahasan Undang-Undang Profesi Pekerja Sosial sedang dibahas di DPR, kita doakan yang terbaik agar pekerja sosial memiliki payung hukum yang kuat. Hal yang terpenting adalah, dimanapun kita pekerja, apapun pekerjaan kita; jangan lupa nilai-nilai seorang pekerja sosial harus tetap dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

Share

1 Response

  1. 22 September 2018

    […] menulis tulisan terakhir saya yang bertemakan tentang pekerja sosial disini sebelumnya, ternyata semakin lebih banyak dinamika yang terjadi di lapangan (maksud saya di lapangan […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *