Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

nol dan nol

Kebanyakan ketidakbahagiaan yang muncul dikarenakan banyaknya diri sendiri membanding-bandingkan dengan orang lain. Sudah menjadi budaya. Menjadi sebuah kesepakatan bersama. Kesepakatan yang tidak sehat. Kesepakatan yang bodoh.

Semuanya berangkat dari pemahaman akan kesetaraan. Semua orang ingin agar setara. Tapi setara tidak akan pernah terjadi. Kesetaraan itu hanya mitos yang dibuat secara kolektif. Mitos untuk menyenangkan hati rakyat akan mimpi palsu. Mitos untuk mereka percayai dan perjuangkan. Mitos yang akhirnya diturunkan kepada generasi selanjutnya. Dibentuk untuk mempercayai bahwa kesetaraan akan terjadi.

Kesetaraan tidak akan pernah muncul. Selama hak-hak pribadi manusia tetap terus diperjuangkan. Keduanya kontradiktif. Tidak ada hablumnya. Kesetaraan dan hak disambung dalam satu kalimat saja sudah dapat membuat tertawa.

Kenapa?

Karena kesetaraan hanya bisa muncul. Bila manusia mau dibatasi hak-hak pribadinya. Agar sama dengan orang lain. Agar sesuai dengan orang lain. Selama belum dibatasi. Akan selalu ada jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Pemahaman yang tidak terlalu rumit. Tapi sayangnya. Hal ini banyak disalahartikan oleh kita semua. Disalahartikan dalam bentuk kepercayaan tanpa dasar. Kepercayaan buta. Fana.

Kepercayaan bahwa tiap orang memulai segala sesuatunya dari titik nol.

Salah?

Tidak.

Hanya saja kurang lengkap.

Titik nol tiap orang itu beda penempatannya. Kalau di matematika jelas. Nol itu diantara -1 dan 1. Tidak mungkin berubah. Tiba-tiba nol ada di setelah angka 4. Karena merupakan angka favorit saya.

Di dalam memahami tentang angka nol dalam kehidupan. Jauh lebih rumit.

Titik nol saya dan titik nol anda itu pasti berbeda.

Kalau kita andaikan saja bahwa tujuan manusia adalah angka seratus. Dan angka seratus itu letaknya di New York.

Titik nol saya itu ada di Kanada. Titik nol anda mungkin saja di Rusia. Sama-sama dari nol. Tapi untuk menuju ke seratus. Ke New York. Lebih mudah dan lebih cepat untuk saya. Naik bis atau pesawat sudah sampai. Waktunya tidak akan sampai seminggu.

Sedangkan anda dari Rusia. Pilihan dari nol ke seratus. Mungkin hanya bisa naik pesawat dan kapal. Pesawat yang harganya lebih mahal dan lebih lama perjalanannya. Atau kalau mau murah. Bisa naik kapal laut yang mungkin akan jauh lebih lama perjalanannya. Dan harus menyeberangi lautan yang luas.

Sama-sama dari nol ke seratus. Tapi nol yang Kanada lebih mudah dan lebih cepat daripada nol yang Rusia.

Ini yang harus sering didiskusikan dan disampaikan. Bahwa nol tiap orang itu berbeda-beda. Manusia itu lahir tidak setara. Dan memang tidak akan pernah setara. Selama masih punya kebebasan hak dalam pribadinya masing-masing.

Manusia itu diciptakan tidak setara. Gen-gen dalam tubuh kita sudah berevolusi ribuan tahun sesuai dengan kebutuhan manusia di daerahnya masing-masing. Kalau sampai manusia itu setara. Berarti bukan manusia lagi. Sudah robot.

Lagipula seandainya manusia itu setara. Kenapa banyak orang yang saling berusaha mengejar atribut-atribut sosial. Mengejar kekayaan. Mengejar kemakmuran. Mengejar kesejahteraan.

Ya karena manusia memang tidak setara. Dan mungkin memang tidak akan pernah setara. Dunia ini memang tidak adil. Dan tidak akan pernah adil.

Kecemasan diri akan ketidakadilan itu hanya buang-buang waktu. Bisa saja saya dan anda membuat catatan siapa saja yang harus disalahkan atas ketidakadilan yang saya atau anda rasakan. Saya yakin akan panjang sekali catatannya.

Kecemasan yang berlebihan atas ketidakadilan yang dirasakan. Yang ditunjukannya dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan diluar diri sendiri. Lebih banyak negatifnya. Untuk diri sendiri. Membatukan hati. Membatukan pikiran.

Lama kelamaan nanti perilaku digerakan insting. Karena sudah tidak bisa berpikir. Toh katanya kan berpikir adalah salah satu kelebihan utama manusia. Kelebihan utama tapi mau didegradasi.

Tulisan ini sebenarnya catatan untuk diri sendiri. Karena terlalu cemas akan label yang diberikan orang lain. Label bahwa apa yang telah diberikan dan diusahakan bukan karena diri sendiri.

Dan sekarang saya katakan kepada anda. Nol saya memang lebih mudah. Karena kerja keras lingkungan terdekat saya untuk sedikit demi sedikit memberikan nol terbaik. Dan tugas saya selanjutnya adalah memastikan bahwa nol dari orang-orang yang akan saya jaga seumur hidup nanti. Juga jauh lebih mudah dari nol yang telah saya terima.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *