Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Mental yang Mental

Jadi saat tadi saya menghabiskan waktu di twitter. Tanpa sengaja saya melihat video diatas. Kejadian baru-baru ini di Indonesia. Sebenarnya tidak baru. Dan tidak sedikit yang seperti itu. Tapi yang viral adalah kebetulan video tersebut.

Dalih yang digunakan pun selalu sama. Melatih mental. Biasanya diikuti bumbu-bumbu lainnya. Meningkatkan kedisiplinan. Manajemen waktu. Utamanya pasti selalu melatih mental.

Masih teringat beberapa waktu yang lalu. Mahasiswa baru yang mengikuti MAPALA di kampusnya. Meninggal dunia. Setelah ditelusuri oleh Polisi. Ada dugaan kekerasan yang dilakukan oleh para seniornya. Senior pun kembali lagi ke dalih nomor satu. Itu untuk melatih mental. Masalahnya mental siapa yang dilatih?

Melatih mental menggunakan kekerasan atau pemaksaan tidak pernah melatih mental siswa yang diajari. Tujuan utamanya ya hanya satu. Pemuas batin bagi para senior. Dulu juga pernah dilatih seperti itu. Sakit hati. Diputar kembali ke juniornya. Lingkaran kegoblokan yang tidak diputus. Mayoritas yang melakukan perpeloncoan. Pasti pernah dipeloncoi. Tidak mungkin tiba-tiba dalam suatu malam.

“Aha, juniorku harus aku kerjai ini. Untuk melatih mental mereka. Dengan apa ya? marahin habis-habisan. Kita suruh makan yang aneh-aneh.”

Seandainya mau marah-marah silahkan. Asal ada sebabnya. Lebih ke tegas mungkin. Saya suka tegasnya tentara saat melatih. Tahun 2014 di Kiarapayung saya pernah dilatih. Selama lima hari. Bapak tentaranya tegas. Bukan marah. Ada hukuman? ada. Hukuman fisik seperti push up atau berguling-guling di rumput. Kami sebagai peserta pun bahagia. Sambil tertawa dibaluri rumput-rumput disana. Pagi harinya lari bersama, menyanyikan yel-yel. Saya waktu itu tidak suka lari, tapi berkat yel-yel. Jadi semangat. Waktu makan paling ditunggu. Saya biasanya habis pertama. Jadi TPA teman-teman yang lain.

Sepulang pelatihan lelah pasti. Senang juga iya. Pengalaman? bertambah.

Bandingkan dengan kegiatan kekerasan dan pemaksaan berbasis pelatihan mental. Apa yang dicari? Menimbulkan dendam ke para junior? sangat. Membuat junior ingin mengulangi untuk juniornya lagi? harus. Mental apa yang dilatih? mental “Monkey see, monkey do”? Mental pengikut? Mental majikan-hamba?

Terus yang sebenarnya menarik adalah penggunaan istilah “untuk melatih mental.” Sebenarnya mental itu apa? Seandainya sudah ketemu definisinya. Kapasitas apa yang kita miliki sehingga tiba-tiba menjadi mampu melatih mental seseorang? Semudah itu melatih mental dengan kegiatan marah-marah dan pemaksaan?

Tidak perlu ada Psikiater, Psikolog, Pekerja Sosial seandainya seperti itu. Cukup para senior korban senior terdahulu aja yang diberikan lapangan kerja.

Seseorang pernah bilang ke saya.

“Jangan gampang ngejudge dong, kamu kan engga tahu bagaimana dalamnya organisasi/komunitas/perkumpulan kami.”

Saya rasa tidak perlu tahu dalamnya. Dan untuk memberikan opini juga tidak perlu tahu dalamannya. Yang ditampilkan di publik, jadi konsumsi publik. Tinggal bagaimana seseorang mau melakukan tindakan dan mempertanggungjawabkan atau tidak melakukan tindak dan juga mempertanggungjawabkannya.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *