Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Mas Rizieq dan Tegaknya Keadilan

saya bukan ahli hukum, dan narasi ini bukan untuk menggurui tapi saya hanya ingin membagikan hal yang menjadi keresahan saya akan hal ini.

Sebuah berita baru saja menjadi pembicaraan masyarakat ramai di internet dan saya yakin juga di dunia nyata. Berita tentang salah satu tokoh yang kasusnya di SP3 atau diberhentikan penyidikannya, benar narasi ini adalah tentang Rizieq Shihab atau oleh beberapa orang disebut sebagai Imam Besar.

Rizieq tersandung beberapa kasus belakangan ini. Kasus penghinaan terhadap pancasila, yang sudah di SP3 dan juga kasus terkait chat mesum yang ternyata baru saja juga di SP3.

Tentu saja masyarakat Indonesia punya berbagai komentar akan hal ini, begitupun saya.

tapi mari kita baca bersama terlebih dahulu tentang apa itu sebenarnya SP3.

Surat Penghentian Penyidikan atau yang biasa disebut SP3 adalah surat ketetapan yang dikeluarkan oleh penyidik Polri atau penyidik PNS sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang menentapkan dihentikannya suatu penyidikan perkara pidana.

alasan pengehentian penyidikan dari Rizieq sendiri adalah belum ditemukan pengupload video awal dugaan chat bernada mesum tersebut.
sumber : https://m.detik.com/news/berita/4070949/ini-alasan-polisi-hentikan-kasus-chat-porno-habib-rizieq

Reaksi

setiap aksi pasti menimbulkan reaksi, begitupun hal ini. Masyarakat memiliki berbagai pendapat akan hal ini dari yang mendukung hal ini, mencaci kinerja polisi sampai mengutuk rezim sekarang.
Saya sendiri berada di posisi mendukung keputusan ini.

eits tunggu dulu. saya tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah pro dengan Rizieq sebagai seorang tokoh yang dianggap di masyarakat seperti saat ini. Tapi sebagai seorang warga negara Indonesia yang punya hak dan kewajiban yang sama, saya rasa Rizieq juga punya hak untuk mendapatkan SP3 dari kasus chatnya. Kenapa?

Ranah Pribadi

Saya pribadi merasa kalau kasus yang terakhir dari Rizieq ini sebenarnya adalah ranah pribadi dari beliau. Kita saja terkadang tidak mau ponsel pribadi dilihat oleh orang lain karena alasan hal itu adalah ranah pribadi. Seandainya yang dilaporkan memang benar demikian kenyataannya ada indikasi chat bernada mesum, lalu apa? kita menghukum penjara kepada orang yang chat dengan orang lain yang merupakan chat pribadi dari orang tersebut? mungkin bila membahayakan stabilitas negara seperti terorisme atau adanya usaha makar, monggo tidak masalah menurut saya; tapi apabila hanya chat yang seharusnya urusan pribadi, masih harus dipikir kembali. kita juga harus dapat membaca keadaan. Dilaporkannya Rizieq juga mungkin karena dia dianggap sebagai public enemy. saya pun tidak nyaman dengan apa yang sudah dilakukan beliau sewaktu di Indonesia, tapi bukan berarti kita menghalalkan segala cara untuk menjegal lawan kita. Bukan tidak mungkin seandainya hal ini berlanjut, nanti sedikit-sedikit masyarakat main lapor masalah yang sebenarnya adalah ranah pribadi masing-masing.

Apa sudah tepat penghentian penyidikan Rizieq? Saya tidak tahu. Tapi yang saya tahu, selama penegakan keadilan diserahkan kepada manusia, dalam pembuatan keputusan pasti akan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dan sulit untuk mendapatkan 100% keadilan.

Menurut saya pribadi pun, seandainya memang Rizieq harus diadili. bukan kasus dugaan chat mesum harus diurus, tapi berbagai ujaran-ujaran kebencian yang sudah beliau lontarkan.

jadi, bagaimana menurut anda? apakah kasus-kasus yang sudah dihentikan penyidikannya akan mempengaruhi persepsi masyarakat akan Rizieq? apakah fans garis kerasnya masih akan sama?

kita tunggu saja narasi selanjutnya oleh Mas Rizieq.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *