Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Kodependensi

Pernah ditulis di blog lama saya pada Tahun 2017.

Pagi ini tadi sekitar pukul 07.30 saya dan kelompok saya melakukan presentasi dari salah satu bahasan di kajian NAPZA STKS Bandung, yaitu “Understanding The Family and Macro Context”. Di salah satu bahasan di bagian memahami keluarga ada salah satu isu yang biasanya terjadi kepada keluarga yang di dalam anggota keluarganya memeiliki pecandu penyalahgunaan NAPZA. Nah, kebetulan saya mendapatkan bagian untuk mempresentasikan tentang siklus hidup keluarga dan kodependensi. Sebagai seorang mahasiswa yang belum baik tentunya saya baru membuat rangkuman jam 07.15.

Dari hasil membaca saya yang hanya 15 menit. Saya langsung tertarik untuk membaca lebih lanjut tentang kodependensi.

Pernahkah teman-teman mendengarkan dari teman atau orang yang kalian kenal, kalimat seperti ini. “Iya engga apa-apa dia menyakiti saya, mungkin itu karena terpengaruh ……….. dia masih sayang ke saya kok” atau seperti ini “iya gapapa mungkin dia lagi banyak tekanan, jadi udah bisa kok diginiin” atau “iya dia gapapa kok main tangan ke saya, yang penting mah dia masih kerja”. Dari kalimat-kalimat diatas menurut sepengetahuan saya bahwa dia sudah bergantung kepada hubungan dengan orang lain.

Kodependensi sendiri adalah adanya adiksi terhadap hubungan. Hubungan dengan siapa? hubungan dengan orang yang merupakan pecandu NAPZA. Awalnya konsep kodependensi dikeluarkan hanya untuk seseorang yang bergantung pada orang lain yang yang merupakan seorang pecandu alkohol, tetapi belakangan ini kodependensi juga diperluas untuk mencakup siapapun yang tumbuh dalam keluarga yang disfungsional. Kalau dari saya sendiri sebenarnya kodepensi juga berkembang lebih jauh dari itu, melebihi batas keluarga. Menurut saya kodependensi juga sudah berkembang ke lingkungan hubungan pertemenan, persahabatan, pasangan, dan lain sebagainya.

Di Indonesia sendiri kodependensi tumbuh subur karena didukung dengan nilai dan norma baik di keluarga maupun di masyarakat. Budayanya pun mendukung, budaya bungkam menjadi salah satu pendukung dari adanya konsep kodependensi ini. Di Indonesia yang menganut budaya ketimuran yang kental, kita sering mendengar ungkapan dari orangtua kita sendiri seperti, “jangan aneh-aneh, udah ikut aja” atau “jangan sampai menyusahkan orang lain ya, kalau ada masalah diurus sendiri”. Budaya bungkam ini menyebabkan orang-orang menjadi tidak mau masalahnya diketahui orang lain. Membuat kodependensi menjadi lebih berkembang lagi.

Takutnya ketika seseorang sudah terikat dengan suatu hubungan dimana dia tidak mau lepas, meskipun dia sakit, baik secara fisik maupun secara moril; Dalam jangkanpanjang hal ini tentunya akan menimbulkan dampak-dampak negatif lainnya. Tetapi, saya masih bingung karena sepertinya sangat bias antara perbedaan kodependensi dengan memang kasih sayang yang tulus dari pasangan.

Share

1 Response

  1. 22 September 2018

    […] Saya pernah membahas budaya bungkam secara singkat di link berikut Kodependensi – Narasi dari Utara […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *