Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Kesehatan Mental dan Sistem Sumber

Kesehatan mental. Akhir-akhir ini memang jadi primadona sebagai bahan perbincangan. Bukan karena sensasinya. Lebih kepada dampak yang ditimbulkan kepada seseorang. Saya pernah menulis tentang kesehatan mental berdasarkan pengalaman saat menjalankan kegiatan praktikum di salah satu rumah sakit dan di masyarakat.

http://radityo.id/menjaga-kewarasan/

Keinginan saya untuk menulis tentang kesehatan mental muncul lagi saat saya melihat ada lagi yang menjadi korban dari kesehatan mental dan dampak yang ditimbulkannya. Saya tahu infonya dari twitter. Bukan orang terdekat saya. Tapi bisa jadi, suatu saat itu dapat terjadi. Kepada saya. Kepada kamu.

Doa dari saya untuk beliau dan semoga orang-orang yang ditinggalkan, diberi kekuatan.

Ketertarikan saya kepada kesehatan mental semakin menjadi beberapa tahun ini. Alasannya satu. Masyarakat masih banyak yang belum tahu dan beberapa ada yang tidak mau tahu.Melihat ada individu yang berbeda sedikit, langsung diberi label. Orang gila.

Keluarga yang merawat individu tersebut tidak jarang dijauhi. Pasung pun menjadi semakin marak. Meskipun banyak upaya dari pemerintah untuk melakukan pembebasan. Tidak mungkin semua lapisan masyarakat dapat tersentuh. Dapat sadar.

Pengalaman saya pun pasung yang dilakukan semakin halus cara melakukannya. Meskipun itu juga disebut pasung. Pada sebuah desa di salah satu Kabupaten di Jawa Barat. Saya melihat sendiri, ada pemasungan. Tetapi tidak dengan menggunakan balok kayu dan rantai. Tapi dengan rumah. Dibuatkan rumah sendiri.

Tapi jauh dari masyarakat. Isolasi dari interaksi dengan manusia lain. Hanya didatangi untuk diberi makan dan minum. Beliau mungkin jauh lebih beruntung daripada teman-teman kita yang juga dipasung di luar sana.

Tertekannya Sistem Sumber

Pemerintah sebagai salah satu sistem sumber sudah berupaya untuk menyelesaikan permasalahan pemasungan ini. Deklarasi bebas pasung di beberapa provinsi dan tahun 2018 Kementerian Sosial sudah memiliki formasi Pendamping Penyandang Disabilitas di tiap kabupatennya. Melakukan penjangkauan kepada teman-teman penyandang disabilitas bekerja sama dengan Dinas Sosial setempat.

but we all know. The government. At this time, can only do so much.

Maka dari itu peran dari sistem sumber yang lain juga semakin dikampanyekan. Terutama sumber informal. Sumber yang terdekat dan mungkin paling mudah diakses. Keluarga.

Ketergantungan terhadap sumber informal ini yang biasanya terjadi. Dalam setting pelayanan rumah sakit apabila seorang pasien sudah tidak memiliki indikasi rawat maka pasien akan dikembalikan ke keluarga. Nah disini sering datang tekanan tiba-tiba untuk keluarga dari pasien disabilitas mental.

Tekanannya bisa bermacam-macam. Dihujat atau dijauhi oleh tetangga. Kebingungan merawatnya (meski cek berkala ke pusat kesehatan beberapa waktu sekali). Tidak mau mengurus sehari-hari. Malu.

Apalagi kalau sudah ada labeling seperti cuplikan koran di atas. Dampaknya tidak hanya kepada individu disabilitas mental. Tapi juga sangat bisa berdampak kepada keluarganya.

Keluarga yang belum siap dan belum paham lebih tepatnya. Saya pun sedikit banyak juga mencoba mengerti. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang mau terdiagnosis seperti itu.

Hal-hal seperti diatas yang menjadi salah satu faktor pendorong keluarga mengalami kejenuhan dan akhirnya mengalami burnout dalam melakukan perawatan. Pemikiran ini pun yang kemudian diturunkan ke tiap-tiap generasi. Disebarkan ke tiap-tiap lapisan masyarakat. Menjadi wabah tersendiri. Bahwa “merawat penyandang disabilitas mental itu berat”. Dan tidak salah juga pemikiran seperti itu.”

Wabah pemikiran ini yang kemudian mempengaruhi keluarga-keluarga yang lain. Menimbulkan ketakutan.

Maka dari itu sebenarnya penting sekali dibentuk semacam forum komunikasi bagi keluarga pasien yang memiliki diagnosis yang sama. Berbagi infomasi dan saling support satu sama lain. Intinya untuk penguatan bagi keluarga. Dan agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.

Utara dan Selatan

Ketakutan muncul dari keluarga terhadap penyandang disabilitas mental. Terutama mengenai “beban” yang mungkin ditimbulkan bila ada anggota keluarganya yang didiagnosis. Takut juga mendapatkan labeling dari masyarakat sekitar.

Sayangnya ketakutan ini belum diimbangi dengan pengetahuannya. Tentang pencegahan dan juga perawatannya. Hal yang sering tidak terlihat saja seperti komunikasi. Terkadang disepelekan. Terkadang saya juga menyepelekan.

Pernah dalam suatu waktu ada teman yang bercerita serius, dan kemudian tanggapan dari lawan bicaranya adalah, “Ya elah bro, gitu aja lu pusing. Gue nih …..” menceritakan masalahnya yang dianggap lebih berat dan betapa hebatnya sang lawan bicara dalam menangani masalah.

Sayangnya, di berbagai kasus. Bukan itu yang dicari oleh si teman tersebut. Mereka butuh di dengar. Mereka butuh saran yang konstruktif, bila membutuhkan.

Pada setting keluarga pun terjadi. Si anak menceritakan bahwa dirinya dirundung/di-bully oleh teman-teman sekolahnya. Respon dari orangtuanya adalah “Yaudah biarin, itu cuma main-main.” atau “gausah dipikirin yang kaya itu, tugas kamu itu belajar yang pintar di sekolah”. Si anak pun menjadi pendiam. Cerita ke orangtua, tidak didengar. Cerita ke teman, dianggap cemen. Cerita ke guru, nanti dibilang pengadu oleh teman-teman. Akhirnya sampai beliau didiagnosis skizofrenia. Dan harus menjalankan hidupnya dibantu obat-obatan dan menjadi kurang dapat mandiri.

Di salah satu sisi. Budaya bungkam diagungkan di keluarga. “Kamu engga usah cerita ke orang lain masalah kamu, malu.”

Di lain sisi, saat cerita keluarganya sendiri. Dianggap tidak penting.

Ini yang mungkin bisa saya ubah. Yang mungkin bisa kita ubah. Bersama-sama. Lebih peduli terhadap sesama. Lebih peka terhadap sesama. Karena dalam mencapai kebahagiaan tidak ada kompetisi. Maka, kenapa kita tidak saling membantu untuk mencapai kebahagiaan masing-masing yang jalannya sudah ada masing-masing.

Toh kalau hidup diibaratkan bersepeda. Memang untuk melaju kita harus kayuh terus pedalnya. Tapi apa salahnya dalam suatu waktu. Kita parkir sepeda kita dan bersama-sama dengan orang lain berusaha menikmati pemandangan yang telah disajikan.

Share

1 Response

  1. 4 Februari 2019

    […] saya sebelumnya menyinggung tentang beban keluarga. Menyinggung karena salah satu sistem sumber dalam membantu dalam […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *