Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Jangan Menyembuhkan

Fenomena burnout satu dekade belakang ini semakin mencuat. Memasuki masa revolusi industri, dimana setiap orang dituntut untuk melakukan segalanya dengan efisien. Hal ini membuat setiap orang berlomba-lomba melakukan pekerjaan terbaiknya. Atau sebaliknya, berlomba-lomba mencari cara agar dapat melakukan pekerjaannya dengan sesuai dan menghindari hukuman.

Benar atau salah. Bukan posisi saya untuk menilai.

Burnout ini fenomena yang menarik. Punya banyak faktor yang mempengaruhinya. Maka dari itu untuk skripsi pun, burnout saya ambil sebagai variabel utama. Saya beruntung. Sembari menyelesaikan studi saya di sebagai Pekerja Sosial. Saya bisa belajar banyak dari kedua informan saya. Mengenai makna profesi. Mengenai makna menolong. Dan mengenai harapan.

Saya berikan deksripsi singkat dahulu mengenai kedua informan saya ini. Keduanya sudah berprofesi sebagai pekerja sosial dalam suatu setting yang saya favoritkan. Dari akhir tahun 80-an dan awal 90-an. Awalnya ada empat orang formasi pekerja sosial. Pada awal 2000-an akhirnya tinggal beliau berdua.

Permasalahannya adalah mereka sudah lama sekali tidak naik pangkat. Banyak faktornya juga. Pekerja sosial yang senior sudah 17 tahun tidak naik pangkat.

Pertama kali dengar. Saya sudah membuat asumsi sendiri. Pasti burnout berat ini. Pasti. Begitu jumawanya saya. Tiba-tiba menjadi sok tau tentang pengalaman hidup seseorang.

Profesi pelayanan kemanusiaan seperti pekerja sosial memang rentan mengalami burnout. Karena yang menjadi klien kita bukan benda mati yang tidak bisa bicara. Klien pekerja sosial adalah manusia. Yang punya masa lalu berbeda. Yang punya masalah berbeda.

Tulisan ini tidak untuk membahasa mendalam tentang burnout.

Satu hal yang paling saya ingat. Dan saya mau bagi.

“Di profesi kita itu mindset harus diubah. Jangan mau menyembuhkan kamu Bim. Kamu merawat.”

Awalnya saya juga tidak ngeh maksud kalimat ini. Sampai saya mendengarkan rekaman suara di malam harinya untuk membuat transkrip wawancara.

Kemudian saya pahami kembali kalimat tersebut. Baru saya bisa sedikit banyak mengambil maksud dari beliau.

Kalau kita meyakini tugas kita sebagai penyembuh. Maka kita akan mudah mengalami kekecewaan. Berkali-kali. Sepanjang bekerja, tidak mungkin semua pasien yang kita tangani bisa pulih. Bisa sembuh.

Namun kalau kita ubah mindset kita untuk memberikan perawatan. Kita tidak perlu takut gagal. Karena meskipun kita tidak dapat memulihkan klien ke kondisi seperti dulu. Setidaknya kita sudah memberikan perawatan.

Indah memang. Namun kemudian realita memukul kembali. Karena kita pasti beradu dengan harapan. Harapan dari klien dan harapan dari keluarga pasien. Saat intervensi yang dilakukan tidak memberikan kemajuan.

Hidup memang tidak seindah perkataan orang-orang. Tapi hei, setidaknya kata-kata tersebut mampu merubah sudut pandang kita dalam menjalani hidup. Untuk menyesuaikan ekspektasi. Demi diri sendiri. Demi lembaga. Dan juga demi klien.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *