Radityo Bimo Kartiko Aji
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial Profesional Tersertifikasi. Mengambil minat kajian di beberapa bidang pekerjaan sosial, antara lain: Kemiskinan, Kesehatan, Disabilitas, Industri, NAPZA, Lanjut Usia dan Koreksional.

Dunning Kruger dan Kebodohan Saya

Minggu ini saya banyak menghabiskan waktu dengan mempelajari informasi baru. Mengenai pembuatan keputusan yang dilakukan manusia. Saya penasaran. Kenapa banyak orang, mungkin termasuk saya. Suka membuat keputusan yang buruk. Padahal sudah diberikan alternatif-alternatif keputusan yang baik.

Hal ini sering dijumpai di dunia profesi pekerja sosial. Dalam melakukan intervensi seharusnya pekerja sosial tidak boleh memaksa. Memaksa jalur intervensi apa yang harus dilakukan. Pekerja sosial memberikan alternatif-alternatif solusi yang dapat dilakukan. Meskipun pada akhirnya. Lebih sering dijumpai pemecahan masalah klien dengan baku. Sesuai sistem. Tanpa memperdulikan keinginan dari klien.

Pada tahap asesmen pun. Pengalaman saya sendiri. Tidak jarang saya jumpai klien yang cenderung memilih keputusan yang buruk. Padahal ada keputusan-keputusan yang baik yang dapat dilakukan pada situasi yang sama.

Banyak sebenarnya penyebabnya. Di artikel berikutnya akan saya coba gambarkan untuk kita belajar bersama. Sinau bareng. 

Tapi untuk tulisan kali ini. Saya ingin belajar bersama anda-anda semua tentang Efek Dunning Kruger. Dan hal ini juga salah satu penyebab mengenai keputusan-keputusan buruk yang kita lakukan.

source

Efek Dunning Kruger untuk mudahnya kita singkat EDK. EDK adalah fenomena bias kognitif. Dimana seseorang merasa bahwa dirinya lebih pintar dan lebih berkapasitas daripada yang sebenarnya dapat orang tersebut lakukan. EDK sendiri diberi nama dari dua peneliti yang melakukan penelitian tentang fenomena EDK. David Dunning dan Justin Kruger. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa orang yang cenderung bernilai rendah pada tes grammar, humor dan logika cenderung meng-overestimate tentang performa mereka dalam tes tersebut.

Radityo: Tadi sih tesnya gampang. Bisalah dapat skor 9/10.

Kenyataannya skor nilainya adalah salah satu yang terendah dalam tes tersebut.

Saya rasa seseorang di masa dewasa awal. Setidaknya pernah sekali merasakan EDK ini. Mungkin saat kita berdiskusi dengan teman-teman tongkrongan. Ada seseorang yang menjelaskan tentang sesuatu topik yang “terlihat” rumit dan “seperti” dikupas secara mendalam. Opini orang lain dianggapnya tidak benar. Kurang informasi.

Penelitian Dunning Kruger menunjukan bahwa orang yang incompentent cenderung kesulitas untuk menilai kualitas dari kerja mereka sendiri. Malahan. Mereka juga cenderung tidak mampu menilai kemampuan dan kompetensi dari orang lain. Hal ini yang menjadi salah satu alasan orang tersebut selalu melihat diri mereka sebagai orang yang lebih baik, lebih mampu dan lebih berilmu daripada yang lain.

Dampaknya pun dapat mempengaruhi keputusan yang dibuat. Bayangkan saja ketika kita merasa jauh lebih tahu daripada kita sebenarnya.

Radityo: “ini jalan yang bener. saya sudah berkali-kali ke daerah Dago. Tidak mungkin salah. ikuti jalan ini terus saja. trust me

padahal mereka hanya berputar-putar Cianjur-Bandung Barat-Cimahi selama berjam-jam

EDK oleh Dunning dan Kruger digambarkan sebagai sebuah fenomena beban berganda. Bukan hanya seseoarng tidak kompeten. Ketidak kompetenan mereka merusak kemampuan mereka untuk mengetahui seberapa mereka sebenarnya tidak kompeten.

Sudah jatuh ketimpa Duren.

  • Meng-overestimate kemampuan diri sendiri
  • Ketidakmampuan menilai kemampuan dan ekspertis dari orang lain.
  • Ketidakmampuan menilai kesalahan dan kurangnya kemampuan diri sendiri.

Diatas merupakan salah tiga dari penyebab EDK yang muncul pada seseorang. Hal yang menarik adalah Dunning Kruger mengatakan bahwa kemampuan seseorang yang baik itu bukan hanya dinilai dari seberapa hebat kemampuan mereka dalam suatu bidang. Tapi juga dilihat dari seberapa mereka sadar bahwa mereka tidak terlalu bagus dalam bidang tersebut. Mungkin asosiasi terdekat dapat dilihat dari penjelasan Umar bin Khattab berikut.

Ilmu ada tiga tahapan. Jika seorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya

Dunning Kruger dan Saya

Yang menarik dari bacaan saya mengenai EDK ini adalah fakta bahwa semua orang hampir pernah menjadi pelaku dari EDK.

Itu berarti saya. Anda juga.

Hal ini dikarenakan seberapapun pengetahuan dan pengalaman kita. Akan selalu ada bidang dimana kita kurang pengetahuan dan kurang pengalaman.

Meskipun kita semua mungkin mengalami EDK. Hasil peneilian Dunning Kruger bahwa fenomena ini tidak dapat disamakan dengan rendahnya IQ. Syukurlah.

ya karena seperti yang saya sampaikan diatas. Bahwa mungkin saja kita pandai dalam suatu bidang. Tetapi tidak ada manusia yang pandai dalam segala bidang. Terkadang kita suka membawa kemampuan kita yang pandai dalam suatu bidang dan menerapkannya ke bidang yang lain.

Seseorang yang pandai dalam bidang public speaking. Belum tentu ia juga pandai mengajarkan kepada orang lain tentang public speaking.

Seseorang yang pandai dalam bidang agama. Belum tentu ia juga pandai mengenai bidang politik.

Jadi, apa yang harus saya lakukan?

  • belajar dan berlatih. Cara paling efektif meningkatkan kemampuan seseorang dengan terus belajar dan berlatih mengenai suatu bidang.
  • cari saran konstruktif. Kata kuncinya di cari. Karena saya rasa saat ini seseorang yang mampu memberikan saran konstruktif tidak banyak. Karena sudah banyak dipengaruhi bias-bias yang ada.
  • tanyakan diri sendiri. Mawas diri. Tanya kepada diri sendiri sebenarnya sudah banyak yang kita ketahui dan harus kita sadari bahwa lebih banyak yang tidak kita ketahui dan pahami. Toh katanya diatas langit masih ada langit kan.

Lain waktu kita belajar bersama lagi mengenai faktor-faktor yang juga dapat menghasilkan keputusan buruk.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *